Tatkala Allah SWT menawarkan amanat (tugas-tugas keagamaan) kepada langit, bumi, dan gunung-gunung untuk dipikulnya, semuanya menolak. Mereka khawatir akan mengkhianatinya. Amanat itu lalu diemban oleh manusia. Namun manusia mudah melalaikannya; sungguh ia sangat zalim dan amat bodoh (baca Q. S. 33: 72). Kesediaan manusia memikul amanat merupakan sebuah pilihan yang menentukan.
Keputusan Allah di akhirat kelak, antara lain bergantung pada sejauh mana amanat dibawa oleh manusia: Ia akan menyiksa orang munafik serta musyrik, dan mengampuni orang mukmin (baca Q. S. 33: 73). Amanat menjadi batu ujian bagi manusia. Agar berhasil menjalankan amanat, manusia harus mampu meneguhkan sifat amanah (tepercaya karena jujur dan bertanggung jawab) di dalam dirinya. Sifat amanah akan mengantarkan seseorang kepada kedudukan mulia. Kehidupan Nabi SAW — sungguh pun belum menjadi nabi — adalah contohnya. Sebagai orang yang amin (tepercaya), di kala umurnya belum mencapai 25 tahun, beliau sudah diamanati oleh Khadijah untuk mengurus bisnisnya yang beroperasi hingga ke Negeri Syams (Suriah). Pada usia ke-35, para pemimpin suku Quraisy sepakat memberi beliau amanat menyelesaikan persengketaan soal siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya, di sudut Ka’bah. Tugas-tugas tadi diselesaikan dengan baik, sehingga layaklah beliau bergelar Al-Amin. Islam memandang sifat amanah sebagai bagian tak terpisahkan dari keimanan. Konsekuensi beriman adalah menaati semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jadi, iman itu sendiri suatu amanat bagi seorang mukmin. Karenanya, Allah berpesan agar seorang mukmin senantiasa menunaikan amanat dan janganlah berkhianat. Firman-Nya, ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (Q. S. 4: 58). Pantulan dan jelmaan iman seseorang dapat tampak pada sikap dan sifat amanahnya di dalam menjalankan profesi, jabatan, atau kedudukan apa pun yang dipegangnya. Seorang hakim akan dikatakan amin, jika menjunjung keadilan dalam memutuskan perkara. Pejabat yang amin tentu mengutamakan pengabdian kepada rakyat dan negara. Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap saling amanah merupakan kekuatan moral yang bukan hanya mampu menepis berbagai kecurangan dan penipuan, melainkan sanggup pula memacu etos amal yang produktif. ”Dunia,” tutur Nabi SAW, ”tak akan mengancam manusia sepanjang empat perkara dipertahankan: memelihara amanat, berbicara benar, berperangai baik, dan berusaha secara bersih.”
Sob jangan lupa commentnya ya, wat kemajuan bersama.
Selasa, 04 Mei 2010
Sifat Amanah
Minggu, 02 Mei 2010
Serakah
"Seandainya anak cucu Adam (manusia) mendapatkan dua lembah yang berisi emas, niscaya ia masih menginginkan lembah emas yang ketiga. Tidak akan pernah penuh perut anak Adam kecuali ditutup dalam tanah (mati). Dan Allah akan mengampuni orang yang bertaubat." (HR Ahmad).
Keserakahan manusia tidak akan pernah hilang kecuali setelah kematian menjemputnya. Dalam bahasa Arab, serakah disebut tamak yang artinya sikap tak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapai. Karena ketidakpuasannya itu, segala cara pun ditempuh.
Serakah adalah salah satu dari penyakit hati. Mereka selalu menginginkan lebih banyak, tidak peduli apakah cara yang ditempuh itu dibenarkan oleh syariah atau tidak. Tak berpikir apakah harus mengorbankan kehormatan orang lain atau tidak. Yang penting, apa yang menjadi kebutuhan nafsu syahwatnya terpenuhi.
Bila tidak segera dibersihkan, penyakit sosial ini dapat menimbulkan malapetaka. Orang yang serakah, akan membuat mata hati dan pendengarannya menjadi tuli. "Cintamu terhadap sesuatu membuat buta dan tuli." (HR Ahmad).
Serakah juga menjadi pintu masuknya setan. Bila masuk dalam hati orang yang serakah, setan akan menghiasinya dengan sifat−sifat tercela lainnya. Dan orang yang serakah itu selalu menganggap baik apa yang dilakukannya, meski kebanyakan orang melihatnya sebagai suatu keburukan.
Serakah, ternyata tidak sebatas pada harta benda semata−mata. Ada orang yang serakah kepada wanita ataupun jabatan. Orang yang serakah kepada wanita, akan menjadikan wanita itu sebagai pemuas nafsunya belaka. Orang yang serakah kepada jabatan, akan berusaha mendapatkan apa yang menjadi incarannya dengan segala cara. Tak pernah berpikir apakah cara yang ditempuh baik atau buruk.
Namun, ada juga serakah dalam hal kebaikan. Serakah ini bisa memberikan jaminan keselamatan bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Serakah yang baik merupakan sifat yang dimiliki oleh orang beriman.
Serakah yang baik akan mendorong orang beriman untuk berlomba−lomba meraih ridha Allah SWT. Mereka tak peduli bagaimana kondisi diri. Yang mereka lihat adalah ridha Allah SWT semata. Mereka rela meninggalkan anak istri untuk jihad di jalan−Nya. Mereka juga rela menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menyambut seruan Ilahi.
Orang yang serakah kepada kebaikan ini justru dianjurkan oleh Rasulullah SAW karena membuat mereka bersungguh−sungguh dalam beribadah dan beramal. Mereka juga menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah SWT. "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena tahajud), sedangkan mereka berdiri kepada (Allah) dengan rasa takut dan harap dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS As− Sajadah (32): 16). (Hikmah/Republika)
Sumber: Rasa Kecewa kepada Teman yg sangat aku dikagumi
Artikel ini saya posting untuk mengingatkan senior saya supaya bisa membenahi diri, sadar akan sifatnya yg serakah dan semoga malu pada statusnya dan Allah.
Ingat Serakah Hanya Akan Membawa Pada Ketidak Percayaan dan Kehancuran
Jadikan Kepercayaan sebagai Amanah.
Sob jangan lupa commentnya ya, wat kemajuan bersama.
Jumat, 30 April 2010
BELAJAR dari WAJAH
Menarik sekali jika kita terus menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya, hari ini kita belajar tentang WAJAH.
Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah PANCARAN yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.
Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri:
"Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa?“
“Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?"
Karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.
Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah istri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapa pun hari ini, marilah kita BELAJAR ilmu tentang WAJAH.
Subhanallah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah.
Tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita.
Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan.
Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya?
Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan.
Ada yang sorot matanya tajam menghujam, tapi menyejukkan.
Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.
Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ULAMA dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya, SEJUK sekali! SENYUMNYA begitu TULUS meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari.
Ada pula seorang ULAMA yang tubuhnya MUNGIL, dan diberi karunia KELUMPUHAN sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar KESEJUKAN yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam KETENTRAMAN BATIN yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.
Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang MENENTRAMKAN, maka cari tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa SENYUMANnya yang TULUS; PANCARAN WAJAHNYA, nampak ingin sekali ia MEMBAHAGIAKAN siapa pun yang menatapnya.
Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang WAJAHNYA BENGIS , struktur KATANYA KETUS, sorot MATANYA KEJAM, SENYUMANnya SINIS, dan SIKAPnya pun TIDAK RAMAH.
Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu, bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.
AMBILLAH kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita.
BUANG jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.
Tidak ada salahnya jika kita EVALUASI DIRI di depan CERMIN. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk BERUSAHA senyum ramah lebih maksimal lagi.
Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal MENINGKATKAN lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi.
Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita MEMBAHAGIAKAN orang lain?
Ingin tidak kita membuat di sekitar kita TERCAHAYAI?
Nabi Muhammad saw memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa PUAS. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bila ada orang yang menyapanya, menganggap orang tersebut adalah orang yang PALING UTAMA di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.
Walhasil, ketika Nabi saw berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap SIKAP dan PERASAAN orang yang diajak bicara.
Ada pun KEMURAMDURJAAN, KETIDAKENAKAN, KEGELISAHAN itu muncul karena kita BELUM menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang PALING UTAMA. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya SEPARUH MATA, berbicara hanya SEPARUH PERHATIAN.
Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah TIDAK MENGUTAMAKAN ORANG LAIN, maka curahan KATA-KATA, cara MEMANDANG, cara BERSIKAP, itu tidak akan punya DAYA SENTUH. Tidak punya DAYA PANCAR yang kuat.
Orang karena itu, marilah kita berlatih diri MENELITI WAJAH, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, MENGAMBIL TAULADAN wajah yang baik, MENGHINDARI yang tidak baiknya, dan cari KUNCInya kenapa sampai seperti itu? Lalu PRAKTEKKAN dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu BELAJARLAH untuk MENGUTAMAKAN orang lain!
Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallah.
Sob jangan lupa commentnya ya, wat kemajuan bersama.



